KDRT Terjadi di Tamakh (Alor), Korban Mengalami Luka-Luka Pada Bagian Dada

Merice (25) Korban penganiayaan yang dilakukan oleh suaminya SU (23) KDRT di Tamakh (Alor).

Alor - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang tak asing lagi terdengar di sepasang telinga kita, bahkan melihat dan mendengar secara langsung. Hal itu terjadi bisa saja akibat dari kecemburuan tingkah laku, sosial, ekonomi, sikap ataupun kesalahpahaman antar suami-istri dan lain sebagainya.

Kali ini terjadi pada Ebulus Merice Labba (25) warga RT. 01, RW. 01, Desa Tamakh, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Merice diduga dianiaya oleh suaminya sendiri (inisial) SU (23) di kediamannya, Senin (20/9/2021) pagi hingga mengalami luka-luka pada bagian dada dan bagian lainnya.

Hal itu terungkap saat Merice, korban KDRT beberkan kronologis kejadian tersebut saat menghubungi redaksi suarakampung.online, Selasa (21/9/2021) malam.

Kejadian KDRT yang menimpa Merice tersebut telah diketahui oleh Kepala Dusun (Kadus) Desa Tamakh dan sudah dilaporkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Pantar Barat.

Mirisnya, pelaku SU telah dilepaskan oleh pihak Polsek Pantar Barat walaupun sempat ditahan kurang lebih satu hari.

Kapolsek Pantar Barat membenarkan kejadian KDRT sepasang suami istri, SU (23) dan Ebulus Merice Labba (25), warga RT. 01, RW. 01, Desa Tamakh, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

"Kasus tersebut sementara dalam proses," kata Kapolsek Pantar Barat kepada Media dengan singkat yang mempunyai wilayah kerja hingga di Kecamatan Pantar Tengah, via WhatsApp.

Kronologis dan Penjelasan Korban "Penganiayaan" KDRT

Ebulus Merice Labba, korban diduga KDRT yang dianiaya oleh suaminya sendiri (SU), warga RT. 01, RW. 01, Desa Tamakh, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya.

"Kejadian itu terjadi pada pagi hari (Senin, 20 September 2021). Sebelum itu saya dengan (anaknya) kecil bangun, bapaknya (SU) belum bangun tidur. Anak saya laki-laki ini umur 1 tahun 4 bulan, kita keluar duduk di ruang TV. Anak ini menangis, jadi saya mau buat susu (anak) jadi saya kasih duduk di kursi, saya suruh ipar duduk jaga. Saya mau ambil air termos, (tapi) termos air panas kosong jadi saya isi susu (anak) di gelas saya ke rumahnya bapak adi.

Saya ke atas (rumahnya bapak adi) isi air panas, saya kembali turun (ke rumah) saya pas masuk di depan pintu, suami saya langsung kasih keluar bahasa bahwa kamu (Merice) keluar dari ini rumah, angkat pakaian pindah ke rumah atas (di rumahnya bapak adi yang saya tadi ambil air panas itu). Jadi saya bilang maksudnya kenapa? Jadi dia bilang, lu (Merice) pi (pergi) masak makan di itu orang punya rumah nah, lu (Merice) pi (pergi) bawa lu (Merice) pung pakaian ko pi (pergi) tinggal disitu. Jadi saya bilang kalau kamu kuat na, kamu angkat kasih keluar. Jadi dia bilang tunggu, saya akan kasih keluar nanti saya angkat buang di luar. Jadi saya masuk, dia gendong anak (kecil) ikut masuk di kamar. (Tak lama kemudian) Saya punya dos jualan ini, saya kan ada jualan kecil-kecilan, dos jualan ini dia (SU) tendang keluar dari pintu kamar. Jadi saya bilang jangan hanya dos saja (tapi) pakaian itu juga kasih keluar.

Jadi dia sudah kasih duduk (anak) kecil di tempat baru dia bilang ho (iya) sekarang ini yang angkat keluar. Jadi saya dengan sendirinya ambil (anak) kecil dari dia pung tangan ini yang dia bangun langsung tumbuk (pukul) saya (bagian) testa duluan. (Terus) saya kembali kasih duduk (anak) kecil di tempat tidur, dia hantam (pukul) di belakang kendok (leher). (Dia pung) tangan dua-dua  kena kepala, testa, (Sa pung dada dibawah dagu) itu dia garu (pake kuku). Itu karena tangan dua-dua bermain (pukul) jadi saya tidak hitung (banyak pukulan), sampe saya punya pelipis (bagian kanan) bagian bawah ini pecah, terus di bagian bawah hidung juga".

Penyebab Terjadi KDRT Yang Dialami Oleh Merice

"Biasakan saya dengan anak bermain disitu, jadi masak-masak, makan-makan disitu. Itu dia tidak suka. Dia (SU suami Merice) marah karena saya jarang masak di dia pung rumah begitu. Tapi saya juga tidak cari masak diatas (rumahnya bapak adi), hanya satu dua kali (saja) hanya kan dia lihat nah. Saya punya bapak adi ini sudah berumah tangga, tapi dia (SU) tidak suka saya ke atas (rumahnya bapak adi) begitu. (Saat kejadian penganiayaan diduga KDRT) ada bapak mantu dengan mama mantu di rumah tapi tidak ada respon sama sekali dari mereka (kita satu rumah dengan mama mantu bapak mantu)".

Keseharian dan Pekerjaan Korban KDRT Ebulus Merice Labba

"Saya di rumah masak tapi, saya jarang masak karena saya ini operator sekolah dan saya juga operator di gereja. Jadi saya punya tugas. Hanya mereka tuntutnya ini saya harus masak di mereka punya rumah setiap hari, sedangkan ini suami (Merice) ni tidak pernah nafkahi saya. Dia ojek, tapi menghasilkan uang untuk saya itu tidak ada. Malah saya yang kerja baru urus saya punya anak dengan saya punya hidup termasuk dia juga".

Korban KDRT, Merice Mencari Perlindungan

"Saya lari (melarikan diri) keluar itu memang masyarakat tidak ada, karena pagi-pagi kan semua sudah ke kebun. Jadi saya mau lari ke rumahnya Bapak Dusun mencari perlindungan, saya ketemu istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh, saya ketemu di samping rumahnya. Dia (istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh) lihat saya punya muka dengan dadah berdarah-darah jadi dia (istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh) tanya ini kenapa? Jadi saya langsung tanya mama (istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh) Bapak (Sekretaris Desa Tamakh) ada? Mama (istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh) bilang ada di Kalabahi. Jadi saya bilang bapak (Suami Merice) pukul saya, (saya) mau cari perlindungan. Jadi saya punya mama adi (istrinya bapak Sekretaris Desa Tamakh) ini bilang ho (iya) pigi (pergi) di Bapak Dusun baru cari perlindungan, jadi saya langsung jalan pigi (pergi) di Bapak Dusun. Pas sampe, Bapak Dusun tanya saya bilang ini kenapa? Bapak Dusun langsung ambil foto (korban/Merice) terus minta keterangan di saya, jadi saya bilang bapak (Suami Merice) pukul saya saat saya gendong anak baru dia pukul".

Merice (25) Korban penganiayaan yang dilakukan oleh suaminya SU (23) KDRT di Tamakh (Alor).

KDRT Yang Dialami Oleh Merice Sudah Berulang Kali

"Karena dia tidak suka saya ke rumahnya bapak adi begitu. Dia sudah ulang-ulang KDRT terhadap saya. Ulang-ulang pukul saya. Bapak Dusun bilang mau proses di Dusun (Desa Tamakh) tapi saya bilang tidak, bapak langsung hubungi polisi saja karena sudah berapa kali kita proses di Pemerintah Desa, di Gereja. Dari pihak gereja juga datang kasih duduk kita, kasih nasihat kita, percuma saja karena itu (kejadian KDRT) berulang terus. (KDRT) sudah berulang-ulang kali, kita sudah berumah tangga sudah mau 6 tahun ini dari RT, RW (selesaikan) kasih duduk kita terus. Dari keluarga, Bapak, Mama saksi, Dewan Adat itu selalu kasih nasehat kita tapi dia tidak berubah-berubah".

Korban KDRT, Merice Putuskan Lapor Polisi. Pelaku Dikeluarkan, Korban Menduga Ada Kerjasama

"Saya langsung ambil keputusan untuk lapor Polisi. Saya ke Bapak Dusun baru Bapak Dusun telepon Polisi baru Polisi suruh kita ke Kantor Polisi (Baranusa, Pantar Barat).

Mereka (Polisi) sempat buat laporan dan bawa saya visum terus mereka (Polisi) telepon dari pihak laki-laki untuk datang ke Baranusa (Kantor Polsek) suruh kita tunggu. (Kita tunggu) sampe malam jadi kita pulang. Kita sudah pulang baru dari pihak laki-laki kesana Baranusa (Kantor Polsek). Dan sampai disana, keluarganya pulang tapi laki-lakinya ditahan. Terus tadi (Selasa pagi) kita ke Baranusa (Kantor Polsek) lagi, mereka (Polisi) bilang hari ini mereka (Polisi) keluarkan (pulangkan) Pelaku (Suami Merice) dengan alasan mereka (Polisi) bilang (Pelaku) ditahan 1X24 jam saja. Itu yang kita bingung, jadi mereka (Polisi) bilang mereka (Polisi) melakukan penyelidikan dulu. Mungkin (diduga) ada kerjasama (oknum anggota Polsek Pantar Barat) juga, karena kita kesini (Kantor Polsek) ini dari pihak laki-laki itu mereka masak makan di rumahnya Polisi begitu. Jadi kemungkinan (diduga) mereka ada kerjasama.

Terus, tadi mereka (Polisi) BAP (Berita Acara Pemeriksaan) lagi saya, mereka (Polisi) bilang mereka (Polisi) pulangkan pelaku, kapan mereka (Polisi) kasih surat panggilan baru kita datang begitu. Saat mereka (Polisi) BAP saya itu, saya bilang saya mau proses hukum. Terus mereka bilang kalau proses hukum, ibu (Merice) punya administrasi ini tidak lengkap".

SU Tidak Pernah Nafkahi Merice dan Anaknya Selama Berumah Tangga

"Kita (SU-Merice) sudah berumah tangga 5 tahun lebih tapi tahun lalu baru kita menikah. (Surat Nikah) baru dari Gereja tapi belum BS. Kita hanya baru buat kartu keluarga sementara, belum ada Akta Perkawinan. Jadi mereka (Polisi) bilang mau lanjut (Proses Hukum), tapi administrasi ini tidak lengkap ini nanti di pengadilan tidak bisa membuktikan. Suami saya (SU) ini memang selama kita berumah tangga, dia (SU) tidak pernah nafkahi saya dengan saya punya anak. Nah kita ini sudah anak dua. Nah satu (Almarhum) itu juga karena saya sementara gendong dia pukul, jadi saya keluar dari rumah satu minggu (anak) kecil itu sakit langsung meninggal. (Yang satu lagi ini) kemarin itu juga saya sementara gendong baru dia pukul. Anak (Merice) aman, sekarang ada di Bapak Dusun punya rumah. Saya masih di rumahnya Bapak Dusun.

Saya mau itu dia diproses hukum itu dipenjara supaya dia sadar begitu.

Kalau omong soal perceraian itu urusan belakang. Dia keluar baru dia mau minta cerai itu urusan dia atau dia mau berubah baru dia mau lanjut (jalani pasanga suami-istri) itu urusan dia. Intinya saya itu dia punya Kriminalnya itu, dia punya sifat yang selama ini bertahun-tahun dia hajar (pukul) saya itu dia terima akibatnya".

Hingga berita ini ditayangkan, Merice diketahui bersama anaknya berada di kediaman Kepala Dusun, RT. 01, RW. 01, Desa Tamakh dan Media pun belum berhasil menghubungi SU (Suami Ebulus Merice Labba) untuk meminta keterangan.***(Red)

Posting Komentar

0 Komentar