Wilayah Bekas Dampak Badai Seroja di Alor Kembali Diguyur Hujan dan Angin Kencang, Tenda Darurat SDN Warbadi Rata Tanah

Kondisi tenda darurat SDN Warbadi, Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur pasca hujan lebat disertai angin kencang malam tadi.


Alor - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang mengeluarkan informasi peringatan dini potensi kekeringan Meteorologis di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Jumat 3 September 2021. Termasuk di wilayah Kabupaten Alor dengan status siaga maupun waspada update per 31 Agustus 2021.

Namun justru sebaliknya pada Minggu (5/9/2021) malam terjadi hujan lebat kurang lebih satu jam terjadi di wilayah Pulau Pantar  tidak lain juga di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Bekas wilayah terkena dampak Badai Siklon Tropis Seroja pada April lalu itu dikawatirkan akan terulang lagi peristiwa yang sama atau mirip. Apalagi puing-puing kerusakan bangunan maupun timbunan kayu, batu maupun tanah yang belum dinormalisasikan sebagian hingga sekarang ini.

Nampak juga dalam sebuah cuplikan video singkat yang didapat oleh redaksi suarakampung.online, masyarakat berbondong-bondong keluar dari rumah dalam kondisi hujan lebat menggunakan payung agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Disisi lain, tenda darurat yang dibangun oleh pemerintah pasca Badai Siklon Tropis Seroja April lalu untuk dipakai sementara sebagai tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SD Negeri Warbadi, Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, NTT pun roboh rata tanah akibat hujan lebat disertai angin kencang.

Peringatan dini potensi kekeringan Meteorologis di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 3 September 2021 update 31 Agustus 2021.

Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Kaleb Onesius Tuati kepada suarakampung.online, Minggu (5/9/2021) malam via telepon seluler miliknya.

"Hujan ini jadi kami ada sementara (ini) banjir," kata Kades Tuati.

Dia menambahkan, jika tidak ada antisipasi dari pemerintah dan masyarakat, kemungkinan besar kejadian atau bencana serupa di April lalu akan terjadi lagi.

"Ini kalau kali kering (air atau bekas bencana Seroja April lalu) yang kita tidak normal ini kampung (Desa Kaleb) berarti terakhirnya kampung (terbawa banjir) habis," ucapnya.

"Sementara ini ada banjir, hujan sekarang ini semakin deras. Tidak sampai satu jam (hujan) ini," tambah Onesius memberikan keterangan malam tadi dalam kondisi wilayah itu masih terguyur hujan lebat.

Disaat hujan lebat atau deras, kata Kades Tuati, warga setempat yang berada di dekat kali air diinformasikan menggunakan pengeras suara (megaphone) agar mencari tempat aman untuk berlindung.

"Sementara masyarakat yang dekat kali (air) ada cari tempat yang aman. Hujan belum sampai satu jam," ungkap Tuati.

"Sementara hujan masih lebat. Ada suruh RT/ RW pakai alat pengeras suara untuk  masyarakat agak jauh dari kali (air)," tandasnya.

Siaran Pers pada 2 September 2021, BMKG Prediksi Musim Hujan di NTT Datang di Bulan November 2021

Sebelumnya, BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang telah merilis "Siap-Siap, BMKG Prediksi Musim Hujan di NTT Datang di Bulan November 2021 pada Kamis 2 September 2021". Dalam rilis tersebut disebutkan, sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur diprediksi akan mengalami musim hujan di atas normal (lebih besar). Diantaranya yaitu, wilayah Manggarai Barat bagian utara, Manggarai bagian utara, Manggarai Timur bagian utara, Ngada bagian utara, Timor Tengah Selatan bagian selatan, Malaka bagian selatan, Kupang bagian utara, Timor Tengah Utara bagian barat.

Untuk itu, BMKG – Stasiun Klimatologi Kupang menghimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai, mengantisipasi dan melakukan aksi mitigasi lebih awal guna menghindari dan mengurangi risiko bencana. Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Februari 2022.

“Dari total 23 Zona Musim (ZOM) di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 4,3 persen ZOM diprediksi akan mengawali Musim Hujan pada Oktober 2021, meliputi Manggarai Barat bagian utara, Manggarai bagian utara, Manggarai Timur bagian utara dan Ngada bagian utara. Kemudian 65.3 persen ZOM pada November 2021, meliputi Manggarai Barat bagian barat dan tenggara, Manggarai bagian selatan, Manggarai Timur bagian selatan, Ngada bagian tengah, selatan dan tenggara, Nagekeo, Ende, Sikka bagian selatan, Flores Timur bagian barat daya, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah bagian selatan, Sumba Timur bagian selatan, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu dan Malaka,” demikian dijelaskan Kepala Stasiun BMKG – Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Rahmatulloh Adji dalam siaran pers yang beredar.

Sementara itu, sebanyak 30.4 persen ZOM lainnya pada Desember 2021, meliputi Sikka bagian utara, Flores Timur bagian barat laut dan utara, Adonara, Solor, Lembata, Pantar, Alor, Sumba Tengah bagian utara, Sumba Timur bagian utara, Sabu Raijua dan Rote Ndao.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Hujan pada periode 1981-2010, maka Awal Musim Hujan 2021/2022 di wilayah Nusa Tenggara Timur diprakirakan MAJU pada 2 ZOM (8.7 persen), SAMA pada 13 ZOM (56.5 persen), dan MUNDUR pada 8 ZOM (34.8  persen).

Secara umum, sifat hujan selama Musim Hujan 2021/2022 diprakirakan NORMAL atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 20 ZOM (87.0 persen) dan sejumlah 3 ZOM (13.0 persen) akan mengalami kondisi musim hujan ATAS NORMAL (lebih basah dari biasanya).

Saat ini El NiƱo-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) sama-sama dalam keadaan Netral. Keduanya adalah faktor iklim penting yang mempengaruhi terhadap variabilitas curah hujan di Indonesia, terutama pada skala waktu inter-annual.

Siaran Pers, BMKG Prediksi Musim Hujan di NTT Datang di Bulan November 2021

Namun, berdasarkan pemantauan parameter anomali iklim global oleh BMKG dan institusi-institusi internasional lainnya, terdapat indikasi/peluang bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi La Nina pada akhir tahun 2021. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.

“Masyarakat diharapkan untuk lebih mewaspadai kejadian cuaca ekstrem seperti hujan es, hujan lebat disertai kilat dan petir, dan angin puting beliung jelang masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Tidak hanya bencana, perubahan cuaca yang tidak menentu bisa membuat imunitas seseorang melemah sehingga menjadi rentan terkena penyakit. Periode musim hujan juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menambah luas tanam, melakukan panen air hujan, dan mengisi waduk/danau yang berguna untuk periode musim kemarau tahun depan,” tegas Rahmatulloh Adji, Kepala Stasiun BMKG – Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang.

Hingga berita ini diturunkan belum ada informasi lebih lanjut atau keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Alor ataupun Dinas Terkait dengan kondisi terkini di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur sejak malam tadi.***(Markus Kari)


Cuplikan video singkat masyarakat keluar rumah dan mencari posisi aman ditengah hujan lebat pada malam, (5/9/2021) yang didapat redaksi suarakampung.online



Posting Komentar

0 Komentar